Minggu, 08 Januari 2012

Alinea dan Pengembangannya (gagasan pokok) #2


Pengembangan alenia dengan gagasan pokok.

1.       Banyak sekali kesenian yang terdapat di Indonesia terutama dalam bidang kesenian sastra. Sastra biasanya terdapat pada daerah – daerah yang beragam di Indonesia . Sastra sangat erat hubungannya dengan sastra Nasional.

2.       Dalam prinsip kemanusiaan yaitu manusia sebagai makhluk social dan tidak bisa hidup sendiri sendiri melainkan harus hidup berkelompok dan harus saling tolong menolong. Adanya sesame manusia dan prinsip kemanusiaan membuat kita melihat aspek fundamental lain bahwa manusia itu makhluk social.


3.       Pengalaman biasanya membuat kita belajar untuk melakukan hal yang lebih baik dari sebelumnya, karena pengalaman merupakan guru terbaik dalam hidup kita. Tidak hanya pengalaman dari diri sendiri biasanya juga kita belajar dari pengalaman orang lain. Sebagai manusia kita perlu belajar dari pengalaman- pengalaman orang lain.

4.       Kisah cinta sesame manusia terkadang membuat seseorang lupa akan semuanya terkadang hilang akal sehatnya. Contohnya saja seseorang yang sudah sangat cinta terhadap pasangannya, ia rela membunuh dirinya apabila ia di khianati oleh pasangannya sendiri . Kisah cinta ini termasuk cinta kasih yang sejati meminta korban.

Alinea dan Pengembangannya (gagasan pokok)


Kalimat topik atau kalimat utama adalah kalimat yang mengandung gagasan utama. Letak kalimat topik atau kalimat utama adalah
a.       Di awal paragraf (Deduktif)
b.      Di awal dan akhir paragraf (Campuran)
c.       Di akhir paragraf (induktif)
Berikut ini saya akan memberikan contoh kalimat yang kalimat utamanya berada pada :
A.      Di awal paragraf (Deduktif)
1         Biologi atau ilmu hayat adalah cabang ilmu tangtang kehidupan. Biologi membantu manusia maengenal dirinya sebagai organism, mengenal lingkungannya, dan hubungannya antara organism dengan lingkungannya. Tujuan pengajaran biologi antara lain adalah mengembangkan cara berfikir ilmiah melalui penelitian dan percobaan; mengembangkan pengetahuan praktis dari metode biologi untuk memecahkan masalah kehidupan dan social; merangsang studi lebih lanjut di bidang biologi dan bidang lain yang berhubungan dengan biologi; serta membangkitkan pengertian dan rasa sayang kepada makhluk hidup.
2         Salah satu program pemerintah dalam masa pembangunan adala usaha penyebaran penduduk Jawa, Bali, dan Lombok (Jambal). Untuk lebih memperjelas keprihatinan disebutlah penyebaran ini dengan namma khusus, yaitu transmigrasi. Bahkan, Bung Hatta berkata dalam kongres ahli-ahli ekonomi (Yogya, 3 Februari 1946) “Suatu masalah yang maha penting dalam rangkaian politik kemakmuran adalah transmigrasi. Kalau ini tidak terpecahkan Indonesia tidak bakal makmur.”

B.      Di awal dan akhir paragraf (Campuran)
1.       Hukum memegang peranan sentral dalam menciptakan dan mempertahankan persaingan yang sehat dalam berusaha. Peran itu dapat ditentukan dalam tiga fungsi hukum, yaitu sebagai alat untuk menciptakan tumbuhnya persaingan yang sehat, pedoman bertindak bagi pelaku ekonomi, dan alat control terhadap perilaku-perilaku yang menyimpang. Oleh karena itu, kehadiran peraturan persaingan yang sehat patut disambut dalam rangka pembangunan ekonomi nasional, tanpa mengabaikan kepentingan penegakan hukum. Adapun kredibilitas suatu peraturan dapat diuji dalam praktik atau penegakannya di tengah masyarakat oleh anggota masyarakat, khususnya para pelaku ekonomi, aparatur pemerintah, dan penegak hukum. Disini hukum harus benar-benar ditegakan untuk mencapai tujuannya. Demikaian peranan hukum sebagai alat pengendali perilaku-perilaku curang dalam persaingan.
2.       Pada umumnya, proses hidup dilakukan dalam “bungkusan-bungkusan yang tersendiri. Setiap manusia merupakan satu bungkusan yang melakukan proses hidup dalam tubuhnya. Proses hidup itu berjalan terpisah dan berbeda dalam tiap tubuh manusia. Kita masing-masing merupakan individu. Demikian pula tiap ekor sapi dalam kawanannya, tiap ekor ikan dalam kelompoknya, dan tiap batang pohon karet dalam suatu perkebunan. Pada umumnya, kita dapat membedakan individu yang satu dari yang lainnya.


C.      Di akhir paragraf (induktif)

1.       Banyak kantor swasta mempekerjakan purnawirawan ABRI sebagai satpam, namun jarang sekali kita lihat perempuan berusia diatas 50 tahun yang dengan mudah mendapat pekerjaan baru sebagai pegawai di sebuah perusahaan. Tentu saja media juga turut menyumbangkan deskriminasi terhadap perempuan lansia. Mereka dianggap tidak layak dijadikan model daripada lansia laki - laki yang dianggap semakin seksi dengan kerutannya, seperti iklan rokok. Sementara pada perempuan, kerutan dianggap membuat seorang perempuan jelek. Atas dasar itulah banyak perempuan berlomba-lomba mengkonsumsi hormon yang dapat membuat perempuan awet muda.
2.       Makhluk hidup disekitar kita dapat digolong-golongkan dalam berbagai jenis, umpamanya manusia, kelinci, padi, mangga, dan lain sebagainya. Sekelompok individu sejenis kita sebut populasi.

Minggu, 30 Oktober 2011

Diksi atau Pemilihan Kata dan Kalimat Efektif



DIKSI ATAU PILIHAN KATA

Defenisi Diksi
Diksi atau pilihan kata berkaitan dengan kata (-kata) mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, memilih kelompok kata-kata atau menggunakan ungkapan yang tepat, dan gaya yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.


Diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
Diksi yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. 




Diksi juga merupakan pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara atau yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata - seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya.


Ciri - Ciri Diksi
menggunakan lafal, tekanan, intonasi yang sesuai menentukan pilihan kata (diksi), bentuk kata dan ungkapan yang tepat dalam kalimat .






KALIMAT EFEKTIF

Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. Untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik, yaitu strukturnya benar, pilihan katanya tepat, hubungan antarbagiannya logis, dan ejaannya pun harus benar.
Dalam hal ini hendaknya dipahami pula bahwa situasi terjadinya komunikasi juga sangat berpengaruh. Kalimat yang dipandang cukup efektif dalam pergaulan, belum tentu dipandang efektif jika dipakai dalam situasi resmi, demikian pula sebaliknya. Misalnya kalimat yang diucapkan kepada tukang becak, “Berapa, Bang, ke pasar Rebo?” Kalimat tersebut jelas lebih efektif daripada kalimat lengkap, “Berapa saya harus membayar, Bang, bila saya menumpang becak Abang ke pasar Rebo?”
Yang perlu diperhatikan oleh para siswa dalam membuat karya tulis, baik berupa essay, artikel, ataupun analisis yang bersifat ilmiah adalah penggunaan bahasa secara tepat, yaitu memakai bahasa baku. Hendaknya disadari bahwa susunan kata yang tidak teratur dan berbelit-belit, penggunaan kata yang tidak tepat makna, dan kesalahan ejaan dapat membuat kalimat tidak efektif.
Berikut ini merupakan contoh pola kesalahan yang umum terjadi dalam penulisan serta perbaikannya agar menjadi kalimat yang efektif.
1. Penggunaan dua kata yang sama artinya dalam sebuah kalimat :
  • Sejak dari usia delapan tauh ia telah ditinggalkan ayahnya.
(Sejak usia delapan tahun ia telah ditinggalkan ayahnya.)
2. Penggunaan kata berlebih yang ‘mengganggu’ struktur kalimat :
  • Kepada yang bersalah harus dijatuhi hukuman setimpal.
(Yang bersalah harus dijatuhi hukuman setimpal.)
3. Penggunaan imbuhan yang kacau :
  • Yang meminjam buku di perpustakaan harap dikembalikan.
(Yang meminjam buku di perpustakaan harap mengembalikan. / Buku yang dipinjam dari perpustakaan harap dikembalikan)
4. Kalimat tak selesai :
  • Manusia yang secara kodrati merupakan mahluk sosial yang selalu ingin berinteraksi.
(Manusia yang secara kodrati merupakan mahluk sosial, selalu ingin berinteraksi.)
5. Penggunaan kata dengan struktur dan ejaan yang tidak baku :
  • Kita harus bisa merubah kebiasaan yang buruk.
(Kita harus bisa mengubah kebiasaan yang buruk.)

Kata-kata lain yang sejenis dengan itu antara lain menyolok, menyuci, menyontoh, menyiptakan, menyintai, menyambuk, menyaplok, menyekik, menyampakkan, menyampuri, menyelupkan dan lain-lain, padahal seharusnya mencolok, mencuci, mencontoh, menciptakan, mencambuk, mencaplok, mencekik, mencampakkan, mencampuri, mencelupkan.
6. Penggunaan tidak tepat kata ‘di mana’ dan ‘yang mana’ :
  • Saya menyukainya di mana sifat-sifatnya sangat baik.
(Saya menyukainya karena sifat-sifatnya sangat baik.)
7. Penggunaan kata ‘daripada’ yang tidak tepat :
  • Seorang daripada pembatunya pulang ke kampung kemarin.
(Seorang di antara pembantunya pulang ke kampung kemarin.)
8. Pilihan kata yang tidak tepat :
  • Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan waktu untuk berbincang bincang dengan masyarakat.
(Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan masyarakat.)
  1. Kalimat ambigu yang dapat menimbulkan salah arti :
  • Sopir Bus Santosa yang Masuk Jurang Melarikan Diri
Judul berita di atas dapat menimbulkan salah pengertian. Siapa/apa yang dimaksud Santosa? Nama sopir atau nama bus? Yang masuk jurang busnya atau sopirnya?
(Bus Santoso Masuk Jurang, Sopirnya Melarikan Diri)
  1. Pengulangan kata yang tidak perlu :
  • Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku setahun.
(Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku.)
  1. Kata ‘kalau’ yang dipakai secara salah :
  • Dokter itu mengatakan kalau penyakit AIDS sangat berbahaya.
(Dokter itu mengatakan bahwa penyakit AIDS sangat berbahaya.)